Vape Lebih Aman dari Rokok, Mitos atau Fakta?

Kinipaham – Banyak kalangan berpendapat, vape atau rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok tradisional. Lantas, apakah anggapan tersebut benar?

Sejak beberapa tahun terakhir, mulai banyak anak muda yang ‘hijrah’ dari rokok tradisional ke rokok elektrik. Selain lebih hemat dan simpel, alat hisap kekinian tersebut dinilai lebih aman dan nyaman digunakan.

Rokok elektrik atau vape sendiri merupakan alat yang dioperasikan menggunakan baterai. Varian rokok elektrik sangat beragam, mulai dari e-pipes, e-cigarette, vape atau vaporizer, shisha elektrik, dan mods.

Baca juga: Biar Enggak Nyesel, Ini Cara Ampuh Berhenti Merokok

Biasanya, vape terdiri dari empat komponen berbeda, yakni cartridge yang menampung cairan, atomizer atau elemen pemanas, baterai, serta mouthpiece atau corong untuk menghirup asap yang dihasilkan dari pemanasan cairan di dalam rokok elektrik.

Kandungan Cairan di Rokok Elektrik

Sebelum membandingkan bahaya rokok elektrik dan rokok tradisional, kita harus memahami dulu kandungan yang terdapat di cairan (liquid) rokok elektrik. Berikut hasil rangkuman kami yang dikutip dari Alodokter, Minggu 27 Juni 2021.

1. Nikotin

Sama halnya seperti rokok tradisional, nikotin merupakan kandungan utama pada cairan vape. Senyawa ini yang membuat penghisapnya mengalami ketagihan dan kecanduan.

2. Propilen glikol dan gliserol

Ini adalah dua cairan pelarut yang paling umum digunakan dalam rokok elektrik. Biasanya, kedua pelarut ini digunakan pada produk kosmetik dan beberapa makanan. Pada rokok elektrik, propilen glikol dan gliserol berfungsi untuk membuat uap saat rokok elektrik dipanaskan.

3. Diacetyl

Diacetyl merupakan senyawa yang ditambahkan ke dalam produk rokok elektrik untuk menciptakan rasa dan aroma, seperti aroma butter atau karamel. Senyawa ini sering digunakan pada popcorn instan dan aman untuk dimakan.

Vape Lebih Aman dari Rokok Tradisional?

Rokok elektrik memang tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yang ada pada rokok tembakau. Asap rokok elektrik bisa dibilang hanya terdiri dari nikotin, berbeda dengan asap rokok tembakau yang mengandung tar, karbon monoksida, hidrogen sianida, dan senyawa berbahaya lainnya di samping nikotin.

Namun, bukan berarti rokok elektrik atau vape tidak berbahaya sama sekali. Sebab, jika dihisap terus menerus, ada risiko yang harus ditanggung.

Nikotin diketahui dapat menyebabkan penyempitan dan pengerasan dinding pembuluh darah, serta peningkatan tekanan darah. Dalam jangka panjang, hal ini juga dapat berdampak buruk pada jantung.

Selain itu, nikotin diyakini juga berbahaya untuk janin dan mengganggu perkembangan otak pada anak. Bahaya nikotin pada janin dan anak-anak bisa terjadi, bahkan lebih mungkin terjadi, andai ibu hamil atau anak-anak terpapar asap rokok elektrik sebagai perokok pasif.

Keamanan kandungan selain nikotin, seperti propilen glikol, gliserin, dan diacetyl, juga perlu diperhatikan. Meski aman untuk dikonsumsi, senyawa ini belum tentu aman untuk dihirup. Secara logika, bahan-bahan kimia ini bisa saja mengiritasi saluran paru-paru dan menyebabkan kerusakan permanen atau bahkan kanker.

Risiko lain yang perlu dipertimbangkan ialah kemungkinan rokok elektrik meledak dan menyebabkan kebakaran. Rokok elektrik juga bisa menyebabkan keracunan pada anak-anak yang tertarik meminum cairan berbau buah atau permen yang ada di dalamnya.

Jika dibandingkan dengan rokok tembakau, rokok elektrik memang tidak lebih berbahaya. Namun, para ahli sepakat bahwa saat ini masih perlu penelitian berlanjut untuk mengkaji dan memantau dampak rokok elektrik pada kesehatan tubuh.

Copy

Advertise