Tonic Immobility, Alasan Korban Pelecehan Seksual Tak Mampu Melawan

Kinipaham – Indonesia dihebohkan dengan kasus fetish kain jarik yang diungkapkan seorang pengguna twitter. Ia mengaku menjadi korban pelecehan seksual berkedok riset akademi yang dilakukan oknum mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Setelah korban bersuara, muncul korban lain dengan modus yang sama. Menggunakan relasi kuasa yaitu memosisikan diri lebih tinggi daripada korban, selalu mencari kesalahan korban hingga mempermainkan rasa empati korban.

Setelah terkuaknya kasus ini dan para korban bermunculan, suara sumbang warganet terdengar. Ada yang mempertanyakan sikap para korban yang hampir keseluruhannya lelaki. Mereka mempertanyakan alasan korban tak bisa membela diri. Mulai dari berteriak, meronta sekuat tenaga atau bahkan mencoba memukulnya.

Baca juga: Geger Modus Predator ‘Kain Jarik’, Apa Itu Fetish dan Gimana Gejalanya?

Sebagai penyintas, banyak yang mengaku mengalami kelumpuhan sementara ketika pelecehan seksual itu terjadi. Bahkan sejak lama para pakar menyebutkan bahwa seseorang yang menjadi korban akan mengalami keadaan shock sehingga mereka sulit untuk melawan penyerangnya.

Dilansir dari scientificamerican, menurut penelitian, sebagian besar perempuan yang selamat dari kasus perkosaan dan mengunjungi Klinik Darurat untuk Korban Perkosaan di Stockholm, Swedia, melaporkan bahwa mereka tak kuasa melawan. Banyak juga yang mengaku tak bisa berteriak minta tolong.

Selama serangan itu mereka mengalami semacam kelumpuhan sementara yang dinamakan tonic immobility atau imobilitas tonik. Korban yang mengalami tonic immobility ini dua kali lebih besar kemungkinannya untuk menderita post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stress pasca trauma. Atau bahkan memiliki kemungkinan tiga kali besar menderita depresi.

Tonic immobility menggambarkan keadaan kelumpuhan yang tidak disengaja di mana individu tidak dapat bergerak atau, dalam banyak kasus, bahkan berbicara. Pada hewan, reaksi ini dianggap sebagai pertahanan adaptif evolusioner terhadap serangan predator ketika bentuk pertahanan lainnya tidak memungkinkan.

Studi yang dilakukan di Acta Obstetrecia et Gynecologica Scandinavica melaporkan bahwa dari hampir 300 wanita yang mengunjungi klinik darurat kasus pemerkosaan, 70 persen mengalami setidaknya imobilitas tonik “signifikan” dan 48 persen memenuhi kriteria untuk imobilitas tonik “ekstrim” selama pemerkosaan. Tingkat keparahan ini diukur menggunakan skala yang mengukur perasaan kaku, bisu, mati rasa dan sebagainya.

Ketika pelecehan seksual terjadi, kebanyakan penyintas akan berpikir bahwa mereka seharusnya bisa menolak tetapi itu tak mungkin. Alhasil mereka akan cenderung merasa bersalah dan malu. “Saya tidak terkejut bahwa imobilitas tonik umum terjadi,” ujar Kasia Kozlowska, psikiater di University of Sydney.

Kozlowska juga menjelaskan bahwa imobilitas tonik menjadi salah satu dari enam perilaku pertahanan yang ada pada hewan. Namun manusia juga membentuk pertahanan yang sama. Pada hewan tingkatannya adalah; gairah (kewaspadaan terhadap bahaya), beku (menunda pergerakan atau melawan sambil menilai bahaya), kabur atau bertarung, imobilitas tonik, runtuhnya imobilitas (pingsan dalam keadaan ketakutan) dan imobilitas diam (penyembuhan). Manusia yang mengalami pelecehan seksual bisa melalui beberapa tahapan ini atau langsung ke imobilitas tonik.

Pada manusia yang mengalami pelecehan seksual, imobilitas tonik dapat segera dipicu ketika input sensorik (sentuhan, bau, dan sebagainya) mencapai ambang kritis dan merasa tak ada jalan keluar.

Menurut Anna Möller, ginekolog di Karolinska Institut, Swedia, sangat penting bagi para penyintas yang selamat dari pelecehan seksual atau pemerkosaan untuk memahami bahwa kemampuan mereka untuk melawan berada di luar kendali mereka. Pendidikan dan pemahaman inilah yang bisa menjadi alat untuk mengubah interpretasi mereka tentang perilaku, mengurangi rasa malu dan rasa bersalah.

Copy

Advertise