Terkuak, Ini Alasan Mobil di Indonesia Pakai Setir Sebelah Kanan

Kinipaham – Saat ini, mobil yang beredar di Indonesia menggunakan stir kendali di sebelah kanan. Kendati sudah menjadi hal umum, namun sebagian kita mungkin masih sering bertanya-tanya: mengapa letaknya tidak di posisi sebaliknya?

Dilansir dari Autoevolution, Minggu 27 September 2020, penggunaan setir sebelah kanan di Indonesia sebenarnya dipengaruhi sejumlah negara di kawasan Eropa. Salah satunya, Inggris.

Baca juga: 5 Makanan Indonesia Ini Berasal dari Singkatan, Salah Satunya Perkedel

Kala itu, ketika Inggris berada di bawah kekuasaan Romawi, semua warganya terbiasa menggunakan tangan kanan untuk membawa senjata saat berkuda. Selain itu, tentara Romawi juga selalu berbaris di sisi kiri jalan. Sehingga kendaraan yang melintas harus melalui sisi sebaliknya.

Kenyataan itu memunculkan satu kesimpulan, bahwa kanan merupakan posisi paling ideal untuk setir kendaraan. Hal itu pula yang membuat pemerintah setempat menyertakannya dalam undang-undang dan mulai diterapkan di seluruh wilayah koloni Inggris pada pertengahan abad 19 silam.

Pengamat sekaligus penulis otomotif asal Inggris, Giles Chapman mengatakan, setelah aturan disahkan, sejumlah negara di kawasan Eropa lain turut mengadopsi hal serupa. Salah satunya, Belanda. Maka, kala itu—sekira pertengahan abad 19—seluruh negara jajahan Negeri Kincir Angin dipaksa menggunakan mobil dengan posisi setir di sebelah kanan.

“Kemudian Belanda mengganti setirnya ke sebelah kiri pada masa penjajahan Napoleon. Namun, perubahan haluan itu tidak diikuti wilayah jajahan Belanda, seperti Suriname dan juga Hindia Belanda (Indonesia). Negara itu tetap menggunakan setir di sebelah kanan,” ujar Chapman.

Di abad ke-19, berbarengan dengan pengesahan aturan setir kendaraan, Inggris juga sedang mengerjakan proyek kereta api yang rencananya hendak diekspor ke Jepang. Pada saat itu, kereta api dirancang melaju di jalur sebelah kiri, dengan komponen kendali di posisi kanan.

“Akibatnya, muncul aturan serupa untuk kendaraan lain, salah satunya mobil. Hal itu pun mempengaruhi produksi di Jepang, serta regulasi di banyak negara lain yang sedang dijajahnya (salah satunya Indonesia),” kata dia.

Copy

Advertise