Seni Berbohong dan Menuduh ala Game Among Us

Kinipaham – Mantan kanselir Jerman sekaligus pimpinan Partai Nazi, Adolf Hitler pernah mengatakan, If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed. Kebohongan yang disampaikan terus menerus, lama-lama dianggap menjadi kebenaran.

Baru-baru ini jagat internet ramai membahas  suatu game di perangkat daring bernama Among Us. Kegaungan namanya di tengah situasi pandemi membuat gim ini secara instan menjadi fenomena global.

Baca juga: Ternyata Gampang, Begini Cara Dapat Hat Gratis di Among Us

Sejauh ini, permainan besutan Innerslotch ini telah diunduh hampir 6 juta kali di perangkat Android. Meski baru populer sekarang, namun Among Us sejatinya sudah ada sejak dua tahun lalu.

Secara garis besar, permainan ini mengusung tema survival dengan latar pesawat luar angkasa futuristik yang disertai visual unik dan peraturan permainan yang mudah.

Dalam ruang permainan berisi 4 sampai 10 orang, akan ada satu sampai tiga impostor (penyamar), yaitu orang yang menyamar sebagai crewmate (teman sejawat).

Selagi para crewmate membantu sesama dalam menjalani misi, suasana akan menjadi mencekam dan penuh ketidakpercayaan saat impostor mencoba membunuh para crewmate satu persatu.

Game beralih pada sesi diskusi dan voting setelah para pemain menemukan mayat di ruang bermain atau jika salah satu pemain memencet tombol emergency meeting.

Baca juga: Ternyata Gampang, Begini Cara Dapat Hat Gratis di Among Us

Saling menuduh, menipu, cekcok, dan melempar kebohongan adalah cara untuk memenangkan game ini, semua itu menjadikan Among Us sangat menarik untuk dijadikan media penelusuran sifat manusia dan sisi gelapnya yang penuh intrik terhadap sesama.

Menurut penelitian, rata-rata manusia berbohong 200 kali per hari. Tapi fakta mengejutkan lain adalah manusia sudah bisa berbohong sejak umur 6 bulan. Rupanya, berbohong sudah menjadi insting natural manusia yang befungsi mempertahankan status dan reputasi dalam bersosialisasi.

Para pemain Among Us tidak perlu membuat banyak usaha untuk memenangkan game ini mengingat berbohong sudah menjadi bagian dari diri kita sejak lahir. Melalui analisis kami, inilah tiga poin guna meraih kemenangan di game Among Us.

Tenang Adalah Kunci

Salah satu induk dari kebohongan adalah tuduhan, yaitu ketidakbenaran yang ditujukan kepada orang lain dengan tujuan merusak reputasinya. Kamu bisa saja sewaktu-waktu dituduh pemain lain sebagai impostor. Kalau alibimu dirasa kurang meyakinkan, kamu akan dikeluarkan oleh para pemain lainnya.

Bagaimana cara menghindari tuduhan? Ternyata berbicara sedikit mungkin telah dipercaya dapat meminimalisir kecurigaan orang lain terhadap kita. Tentu ini kabar bagus. Untuk apa dengan lantang mencari pembelaan jika dengan diam saja sudah bisa membuat orang meragukan asumsinya?

Channel YouTube terkenal bernama Jubilee mempunyai segmen mingguan bernama “Odd Man Out” di mana beberapa orang yang tidak saling kenal dipersatukan dalam sebuah box.

Pada awal setiap segmen, mereka semua akan mengaku mempunyai satu keragaman dengan yang lain, misalnya: “aku adalah introvert”, “aku adalah penggemar Taylor Swift” atau “aku adalah pendukung teori bumi datar.” Namun, ada satu orang yang berbohong. Mereka harus mencari siapa yang memalsukan diri mereka dengan sesi tanya jawab kepada orang lain di dalam box untuk memenangkan 100.000 dolar amerika.

Akan ada sistem voting di setiap 3 menit istirahat untuk memutuskan siapa yang akan dikeluarkan, sistem voting ini sangat mirip seperti di dalam game Among Us.

Baca juga: Peneliti: Anak-anak yang Hobi Main Game Biasanya Lebih Pemarah

Dalam sesi diskusi, ada yang sangat agresif dalam berargumen, terlalu serius, bahkan melemparkan argumentasi yan lemah tanpa sanggahan yang kuat dengan percaya diri. Hasilnya? Mereka dikeluarkan lebih awal berdasarkan voting dibandingkan mereka yang lebih memilih untuk menjadi tenang. Kunci untuk meyakinkan orang lain bukanlah dengan berbicara sebanyak mungkin, tetapi berbicara di waktu yang tepat mengenai hal yang kamu kuasai.

Bedanya dalam Among Us, kita hanya menilai perilaku pemain hanya dari perlakuan ketika di ruang game dan kata-kata yang dilontarkan ketika diskusi. Maksimalkan waktu diskusi dengan berbohong sedetil dan semeyakinkan mungkin untuk mengelabui musuhmu. Tetapi jika kamu tidak pandai berbohong, maka diamlah.

Jangan Membuat Tuduhan Buta

Bagaimana cara agar tidak mengeluarkan pemain yang bukan impostor? Caranya adalah dengan berpikir netral dan mengesampingkan prasangka yang tertanam dalam diri kita.

Pada tahun 1593 di kota Nordlingen, Jerman, seorang penjaga perumahan bernama Maria Holl dituduh sebagai penyihir yang mempunyai kemampuan ghaib. Dia mengelak, namun tetap mendapat hukuman dalam 62 babak selalu akhirnya ia dibebaskan.

Rebekka Lemp, dituduh beberapa tahun sebelumnya di kota yang sama mengalami nasib yang lebih sadis. Ia dibakar hidup-hidup di depan keluarganya sendiri. Beratus-ratus tahun kemudian rakyat Jerman sudah menjadi bangsa modern yang tidak mempercayai dan jauh dari aksi-aksi barbarik seperti membakar orang hidup-hidup karena tertuduh sebagai penyihir.

Apa yang bisa disimpulkan? Bahwa prasangka sangatlah mematikan, dan jika kamu lengah, kamu akan mengambil keputusan yang salah yang merugikan orang lain.

Di dalam permainan Among Us. Seseorang bisa tertuduh karena melakukan tindakan mencurigakan. Namun perlu dilihat apakah pikiran kita telah bersih dari prasangka dan dugaan tak berdasar pada pihak terduga.

Misalnya, kamu hendak menuduh crewmate berwarna merah hanya karena kamu benci dengan warna merah, yang mungkin disebabkan oleh kebencianmu pada darah yang bahkan kamu tidak sadari. Dalam ilmu psikologi, ini disebut unconscious bias yang kerap mengendalikan keputusan manusia berdasarkan reflek psikologisnya.

Terdengar klise, namun nyatanya banyak orang yang sering tertipu oleh prasangkanya sendiri. Bukankah sangat disayangkan jika kita megeluarkan crewmate yang bisa membantu kita menjalankan misi?

Hati-hati dengan Pernyataan Palsu

Pada gim Among Us, akan ada kala di mana seorang crewmate memberitakan sebuah penemuan mayat yang dilanjutkan dengan sesi diskusi dan voting. Masalahnya, si pemain yang melaporkanya bisa saja melakukan self-report.

Di sinilah semua pemain harus mengingat bahwa kebenaran hanya ada satu, sedangkan teori dan asumsi sangatlah berlika-liku. Jangan terpaku oleh ego dan perspektif dalam memecahkan suatu masalah atau mencari penjahat. Karena sejatinya kita seringkali berbohong dan menuduh bukan kepada orang lain, melainkan diri sendiri.

Adolf Hitler yang kutipannya kami muat di awal tulisan ini pernah membuat pernyataan propaganda yang menyudutkan kaum Yahudi. Teknik masif yang ia pakai untuk memengaruhi jutaan pengikutnya manjur karena tekanan pengucapannya ketika pidato di depan publik dan cara-cara liciknya mendoktrin orang dan berbohong demi kepentingan politiknya.

Apa yang ia lakukan sama sekali bukan untuk ditiru apalagi hanya untuk sebuah permainan online, namun perlu dikenali bahwa pola kebohongan manusia kerap sekali mempunyai kesamaan dalam penyampaiannya. Berhati-hatilah, karena apa yang terdengar benar belum tentu benar dan yang terdengar salah belum tentu salah.

Namun pada akhirnya, Among Us hanyalah permainan virtual semata dan kebohongan serta pengkhiatan adalah penghias warna kehidupan manusia yang tak akan pernah hilang.

Itu semua menjadi bumbu yang membuat game ini semakin menarik untuk dimainkan. Sebuah permainan yang sangat memikat yang daya tariknya justru berasal dari sisi gelap manusia. (Farhane)

Copy

Advertise