Sempat Remehkan Corona, Kini Bos Grab Harus Elus Dada

Kinipaham – Chief Executive Officer Grab, Anthony Tan mengaku telah salah mengambil keputusan ketika ia berpikir bahwa Covid-19 adalah penyakit sepele dan tidak akan merebak menjadi pandemik, ia kemudian mengaku hal ini merupakan kesalahan terbesarnya selama menjabat sebagai CEO Grab.

Asumsi Covid-19 tidak akan mengganggu bisnis Grab kemudian secara cepat terbantahkan ketika pandemi asal Wuhan, China ini mulai tersebar luas dan menutup banyak negara hingga menggoyangkan ekonomi dunia.

Baca juga: Redmi 9A Resmi Meluncur, Harganya Pas untuk Kaum Low Budget

Menurut Reuters, Anthony Tan sampai meminta wejangan Masayoshi Son dari Softbank dan Satya Nadella dari Microsoft. Tetapi setelah meminta pendapat dari kedua raksasa pebisnis ini ia menyadari bahwa tidak ada satu orangpun yang tau kapan pandemik ini akan berakhir.

“Keadaan (seperti ini) tidak memungkinkan lagi untuk berdiskusi. Saya ingat betul saya meneteskan air mata ketika mengambil keputusan untuk merumahkan pekerja saya,” ungkap Tan.

Juni 2020 lalu Tan harus mengambil keputusan berat untuk merumahkan 360 pegawai Grab pusat setelah sebelumnya ia berdiskusi dengan teman almamater Harvard sekaligus co-founder Grab, Tan Hooi Lin.

Covid-19 merupakan krisis dunia pertama yang menerpa Grab karena sebelumnya Grab tidak merasakan krisis ekonomi 2008, padahal Tan megnatakan Grab adalah perusahaan yang sedang berada di jalur menguntungkan dengan value perusahaan lebih dari $14 milyar dollar.

Negara-negara Asia Tenggara harus lockdown besar-besaran setelah pandemik menyebar luas. Reutres menyebut Grab melihat dengan jelas penyusutan order jasa ojek daring, tetapi angin segar datang dari new normal yang membuat Grab Food membludak.

Tan mengatakan hampir 150.000 mitranya beralih fokus ke jasa pengantaran makanan kepada konsumen terdampak lockdown di negaranya masing-masing.

“Kami melihat adanya peluang dengan perubahan pola hidup masyarakat yang terdampak Covid-19. Masyarakat menjadikan jasa pengantar makanan sebagai new normal, jasa pengantar sembako juga berkembang pesat, transaksi cashless makin digemari, pola baru ini akan berlangsung lama, bahkan ketika vaksin (Covid-19) sudah didistribusikan,” jelas Tan.

Melihat Jauh ke Depan di Masa Pandemi

Grab sebelumnya mengalami kemerosotan dari jasa ojek daringnya, tetapi bisnis uang elektronik Grab melaju pesat. Grab sudah lama miliki agenda melebarkan bisnis uang elektronik, penyebaran Covid-19 mempercepat serta memupuk agenda tersebut.

Tan berpendapat dengan makin banyaknya penggunaan uang elektronik membuat Grab memiliki peluang keuntungan di masa yang akan datang.

“Dalam situasi krisis seperti ini, perusahaan dengan respon tercepat akan bertahan melewatinya,” kata dia.

Copy

Advertise