Sebelum Corona, Wabah Penyakit Ini Pernah Bunuh Puluhan Juta Orang

Kinipaham – Dunia sedang dihebohkan dengan merebaknya virus corona yang bermula di kota Wuhan, China. Hingga tulisan ini dibuat, pasien yang meninggal karena virus mematikan itu mencapai 492 orang dan telah menjangkiti lebih dari puluhan ribu orang.

Tidak hanya di Wuhan dan kota-kota lain di China, virus ini bahkan sudah menyebar ke berbagai negara. Dari mulai Filipina, Australia, Inggris, Malaysia dan belasan negara lainnya. Merebaknya virus ini tentunya menjadi perhatian tersendiri bagi banyak negara di dunia.

Di Indonesia sendiri telah melakukan langkah pemulangan terhadap 238 WNI yang berada kota Wuhan. Para WNI yang sudah dipulangkan ke tanah air, melakukan karantina di Natuna.

Baca juga: Jangan Termakan Hoax, Ini Fakta Sesungguhnya Virus Corona

Begitu dahsyatnya virus ini merebak hingga akhirnya menjadi momok yang sangat menakutkan. Namun, tahukah kamu kalau jauh sebelum virus corona ini mencuat ke permukaan, suatu wabah menakutkan pernah melanda Eropa dan menewaskan jutaan orang!

Kita kembali pada abad ke-14, di Eropa dan Asia, wabah yang dikenal dengan nama The Black Death menjadi musuh utama. Berawal pada tahun 1347, 12 kapal dari Laut Hitam merapat di Pelabuhan Sisilia, Messina, Italia. Orang-orang yang berkumpul di sepanjang dermaga menemukan hal yang tak dapat mereka lupakan.

Kapal-kapal dipenuhi dengan para pelaut yang tewas sedangkan mereka yang masih hidup, mengalami sakit yang amat parah. Bisul hitam mencuat dari kulit mereka dan mengeluakan darah serta nanah. Otoritas berwenang Sisilia memerintahkan ‘kapal kematian’ itu segera menjauh dari dermaga.

Namun terlambat, wabah ini nyatanya membunuh lebih dari 20 juta orang di Eropa pada 5 tahun kemudian. Jumlah ini setara dengan sepertiga populasi dunia. Dilansir dari History.com, sebelum kapal-kapal itu berlabuh di Sisilia, rupanya sebagian besar warga Eropa sudah mendengar berita mengenai wabah tersebut. Tepatnya pada awal tahun 1340-an, penyakit itu telah melanda Cina, India, Persia, Suriah dan Mesir.

Seorang penyair asal Italia, Giovanni Boccacio sempat menuliskan, “pada awal pembengkakan, baik di kelenjar getah bening, pangkal paha atau di bawah ketiak… menempel bisul sebesar apel atua seukuran telur dan disebut wabah bisul”. Darah dan nanah yang merembes keluar dari pembengkakan itu merupakan gejala wabah tersebut.

Gejala lain yang dialami adalah demam, muntah, diare, nyeri dan dalam waktu singkat bisa berujung pada kematian. Gawatnya, penyakit ini bisa menular hanya dari sentuhan. Saking berbahayanya, orang-orang saat itu berpikir, ‘orang yang sehat ketika tidur di malam hari, bisa mati di pagi hari’.

Jadi, wabah misterius apakah The Black Death?

Dewasa ini, para ilmuwan sudah memahami wabah hitam atau yang kini disebut sebagai pes. Pes disebarkan oleh bakteri Yesrina Pestis (Ahli biologi Prancis Alexandre Yersin yang menemukan bakteri ini pada akhir abad ke-19). Bakteri ini diketahui berasal dari gigitan kutu atau tikus yang terinfeksi.

Kedua hama ini (tikus dan kutu) dapat ditemukan dengan mudah di Eropa pada abad pertengahan, terutama di atas kapal. Penyebaran yang marak di atas kapal itulah yang akhirnya menjadi jalan wabah tersebut menyebar dari Eropa dengan pintu masuk dermaga-dermaga kapal.

Tidak lama setelah itu menghantam Messina, Black Death menyebar ke pelabuhan Marseilles di Perancis dan pelabuhan Tunis di Afrika Utara. Kemudian mencapai Roma dan Florence, dua kota di pusat jaringan rute perdagangan yang ramai. Pada pertengahan 1348, Black Death telah melanda Paris, Bordeaux, Lyon dan London.

Tidak ada yang tahu persis bagaimana Black Death ditularkan dari satu pasien ke pasien lain, dan tidak ada yang tahu bagaimana mencegah atau mengobatinya. Dalam keadaan yang sangat panik itulah orang-orang mulai menghindari mereka yang tertular. Tidak peduli walaupun yang tertular adalah orang tercinta mereka.

Dokter menolak menemui pasien, para rohaniawan menolak untuk menyelenggarakan upacara pemakaman, dan pemilik toko menutup toko mereka. Dan banyak orang, putus asa untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, bahkan meninggalkan orang yang mereka cintai yang sakit dan sekarat.

Banyak orang melarikan diri dari kota ke pedesaan, tetapi bahkan di sana mereka tidak dapat melarikan diri dari wabah ini. Lantaran wabah ini menyerang sapi, domba, kambing, babi dan ayam serta manusia. Banyaknya hewan ternak yang mati terutama domba membuat kelangkaan yang teramat sangat pada bahan wool.

Copy

Advertise