Riset: 60 Persen UMKM Indonesia Alami Pencurian Data Pelanggan

Kinipaham – Baru-baru ini, melalui hasil studinya, Cisco mengungkap ada 60 persen pelaku UMKM di Indonesia yang mengalami pencurian informasi pelanggan oleh pelaku kejahatan. Bukan hanya itu, menurut data yang sama, ada 33 persen UMKM yang mengalami insiden siber dalam setahun terakhir.

Direktur Cisco Indonesia, Marina Kacaribu mengatakan, semenjak UMKM beralih dari konvensional menjadi digital, kasus pencurian data tersebut makin marak terjadi. Sebab, kata dia, digitalisasi identik dengan keterbukaan.

“Ketika UKM menjadi lebih digital, maka mereka menjadi target yang lebih menarik bagi pelaku kejahatan, karena bisnis digital menyebabkan terbukanya banyak informasi yang bisa menjadi sasaran empuk bagi peretas,” ujar Marina, dikutip dari Antara, Selasa 26 Oktober 2021.

“Selain itu, UKM yang sudah mengadopsi teknologi digital menghasilkan lebih banyak data, dan data-data ini sangat berharga bagi pelaku kejahatan. Hal-hal tersebut mendorong UKM untuk berinvestasi pada solusi dan kemampuan untuk memastikan mereka dapat menjaga bisnis mereka di bidang keamanan siber,” lanjutnya.

Hampir 29 persen UKM Indonesia yang mengalami serangan siber melihat bahwa alasan utama adalah karena solusi keamanan siber yang dianggap tidak memadai untuk mendeteksi atau mencegah serangan.

Sementara itu, 21 persen menyebutkan bahwa alasan utama terjadinya serangan adalah tidak adanya solusi keamanan siber.

Selain kehilangan data pelanggan, UKM di Indonesia yang mengalami insiden siber juga kehilangan data karyawan (63 persen), email internal (62 persen), informasi bisnis yang sensitif (60 persen), informasi keuangan (54 persen), dan kekayaan intelektual (54 persen).

Ilustrasi UMKM Go Digital.
Ilustrasi UMKM Go Digital.

Director Cybersecurity, Cisco ASEAN, Juan Huat Koo mengatakan, UKM semestinya bisa mendeteksi, menyelidiki, dan memblokir atau memulihkan sendiri insiden siber yang terjadi. Sebab dengan demikian, pencurian data bisa dicegah lebih awal.

“Untuk dapat melakukan itu, mereka membutuhkan solusi yang mudah diterapkan dan digunakan, terintegrasi dengan baik satu sama lain, dan dapat membantu mereka mengotomatisasi kemampuan seperti deteksi, pemblokiran, dan perbaikan insiden siber,” kata dia.

Copy

Advertise