Ramai Fenomena Asuh Spirit Doll, Psikolog: Itu Tanda Gangguan Mental

Kinipaham – Sejak beberapa bulan terakhir, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan ramainya fenomena spirit doll atau boneka berarwah. Hal tersebut bermula saat desainer kondang Ivan Gunawan (Igun) mengenalkan dua bonekanya, Miracle dan Marvelous yang dianggapnya sebagai anak.

Setelah itu, mulai banyak masyarakat umum yang membagikan pengalamannya mengasuh spirit doll di akun media sosial pribadi. Bahkan, sebagian mereka beranggapan, boneka tersebut sejatinya hidup dan bisa memahami apa yang dikatakan manusia.

Baca juga: Mengenal Echo Chamber dan Bahayanya di Media Sosial

Spirit Doll.

Lantas, pertanyaannya, bagaimana psikolog melihat fenomena tersebut? Benarkah bisa dikatakan wajar atau justru sebaliknya?

Psikolog dari Universitas Indonesia atau UI, Kasandra Putranto mengatakan, menganggap spirit doll sebagai anak atau teman dekat kemungkinan menjadi tanda bahwa seseorang mengalami delusi.

“Jika seseorang memperlakukan spirit doll-nya sebagai anak atau teman sendiri, maka ada kemungkinan sang pemilik mempunyai gangguan mental atau delusi,” ujar Kasandra, dikutip Kinipaham dari Antara, Rabu 12 Januari 2022.

Lebih jauh, dia beranggapan, bermain dengan spirit doll sebenarnya wajar-wajar saja jika pemilik sadar bahwa obyek tersebut hanyalah boneka dan bukan merupakan teman atau anaknya sendiri.

“Sesekali mengajak bicara pada spirit doll masih wajar, namun yang terpenting adalah pemilik sadar bahwa spirit doll tersebut tidak dapat menggantikan sosok anak atau teman,” tuturnya.

Pahami penyebab seseorang punya spirit doll

Ilustrasi Spirit Doll.
Ilustrasi Spirit Doll.

Selain itu, lanjut dia, meyakini spirit doll mempunyai kekuatan dan bisa melakukan apapun di luar nalar manusia juga bisa menjadi pertanda seseorang memiliki gangguan mental. Itulah mengapa, Kasandra mengatakan penting untuk mengetahui penyebab seseorang bermain dengan spirit doll.

Jika seseorang memilih spirit doll karena merasa kesepian maka orang di sekitarnya termasuk orang tua, teman, maupun anggota keluarga lain semestinya bisa menjadi support system.

“Kita bisa membantu untuk meningkatkan keterampilan sosialnya agar bisa menjalin pertemanan dan kedekatan dengan orang lain,” tegasnya.

Dia menambahkan, memiliki kehidupan sosial di luar ketertarikan terhadap spirit doll dapat menghindari munculnya kondisi psikologis tertentu yang memerlukan dukungan lebih. “Jadi, mencari tahu dan memahami penyebab utama seseorang memilih spirit doll adalah hal terpenting,” kata dia.

Copy

Advertise

Pantau Artikel Kinipaham di Instagram yuk!

X