Penasaran, Mengapa saat Bosan Waktu Terasa Lama?

Kinipaham – Sebagian kita mungkin pernah bertanya-tanya, mengapa saat merasa bosan waktu terasa lebih lama?

Manusia dibekali otak yang mampu mengukur waktu dalam satuan terkecil, misalnya dari detik ke detik, lalu beralih ke hitungan menit. Namun, alat pacu internal tersebut tak bisa menjaga waktu seakurat perangkat eksternal. Bahkan, ada momen di mana kita merasa waktu lebih panjang atau pendek dari seharusnya.

Baca juga: Jika Tak Ada Kematian, Berapa Populasi Manusia di Bumi Saat Ini?

Saat manusia merasa bosan atau tak nyaman dengan keadaan, waktu terasa begitu panjang. Namun, saat otak menangkap respons menyenangkan, waktu berlalu sangat cepat. Lantas, mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Dikutip dari CNN, persepsi individu akan waktu sangat dipengaruhi tingkat fokus, keadaan fisik, dan suasana hati. Hal tersebut diungkapkan peneliti senior di Pusat Penelitian Neurosains Australia, Muireann Irish dan peneliti klinis di Institute Neurosains Klinis di Universitas Cambridge, Claire O’Callaghan.

Saat kita berkonsentrasi pada sebuah peristiwa, waktu kadang berlalu lebih lambat dari biasanya. Hal yang sama terjadi ketika kita bosan. Waktu seolah terseret tanpa akhir.

Dalam keadaan lain, waktu bisa terasa sangat cepat. Ketika perhatian kita terbagi, misalnya, dan kita sibuk mengerjakan beberapa hal sekaligus, di saat itu waktu berlalu lebih cepat. Muireann dan Claire mengungkapkan, kondisi tersebut bisa terjadi lantaran kita kurang memerhatikan aliran waktu.

Selain itu, kualitas emosional sebuah peristiwa juga memengaruhi persepsi kita tentang waktu. Kondisi emosional negatif—misalnya rasa sedih atau tertekan, membuat waktu seolah berjalan lebih lambat.

Ketakutan juga berefek kuat pada waktu, memperlambat jam internal manusia, sehingga peristiwa yang menyebabkan ketakutan tersebut dianggap lebih lama. Sebaliknya, kesenangan dan kebahagiaan tampak berlalu dalam sekejap mata.

Copy

Advertise