Penasaran, Ada Apa di Bawah Pasir Gurun Sahara?

Kinipaham – Mendengar nama Gurun Sahara yang terlintas di pikiran kita adalah hamparan pasir yang tidak berujung dan menggunung. Walau sekarang memiliki gelar sebagai gurun pasir terbesar di dunia, Sahara di masa lampau pernah menjadi hutan hijau, di mana peradaban tumbuh subur dan tersedia air laut yang dihuni berbagai macam spesies.

Peradaban Kuno

Iklim tropis yang pernah disandang Gurun Sahara memberikan wadah yang sangat baik bagi manusia untuk mendirikan peradaban di bawah kanopi hutannya. Peradaban di Sahara bisa ditemukan di area Pegunungan Acacus, Libya.

Manusia yang mendirikan peradaban di area Pegunungan Acacus memilih gua dan bebatuan sebagai tempat tinggalnya pada 10.000 sampai 9.000 tahun yang lalu. Tim peneliti asal University of Bristol menyebut setidaknya manusia memiliki peradaban di Sahara selama 5.000 tahun.

Peradaban yang pernah ada di Sahara diklasifikasikan sebagai peradaban ‘aqualitic’ yaitu peradaban yang dekat dengan air karena ditemukannya peninggalan alat pancing dan alat lainnya yang digunakan di air.

Peradaban manusia Sahara meninggal lukisan dinding gua yang dapat ditemui tersebar di gurun ini. Dari lukisan ini peneliti mengetahui bahwa manusia pada kala itu tidak hanya bergantung pada sumber daya perairan tetapi juga mendapatkan makanan dari hasil berternak. Peradaban manusia di Sahara akhirnya runtuh sekitar 2.500 tahun yang lalu karena hutan hijau Sahara perlahan berubah menjadi gurun seperti yang kita kenal saat ini.

Fosil Binatang Laut Purba

Wadi El Hitan adalah bahasa arab yang bila diterjemahkan artinya Lembah Para Paus. Penamaan Wadi El Hitan ini mengacu pada ditemukannya tulang belulang paus purba seperti keluarga Paus Archaeoceti. Fosil di area ini memang bukan yang tertua, tetapi area ini merupakan salah satu wilayah yang menyimpan fosil paus paling banyak di dunia.

Banyaknya fosil paus di Wadi El Hitan membuat UNESCO mendeklarasikan tempat ini sebagai situs warisan dunia. Selain paus di sini juga dapat ditemukan fosil hewan laut lainnya seperti ikan hiu, ikan pari, sapi laut, buaya, penyu, ular laut, bahkan spesies gajah purba.

Fosil binatang laut purba di Wadi El Hitan sejalan dengan teori adanya samudera purba, Tethys Ocean atau Samudera Tethys. Samudera Tethys terbentuk pada masa Mesozoik sekitar 252 juta tahun yang lalu sampai 66 juta tahun yang lalu.

Fosil Dinosaurus

Perubahan geografi yang terjadi terus menerus di Sahara menjadikannya bukan hanya ladang fosil binatang laut, tetapi juga ladang fosil dinosaurus. Tercatat setidaknya ada puluhan fosil dinosaurus yang dapat ditemukan di Sahara.

Beberapa fosil dinosaurus yang paling terkenal adlaah Paralititan dan Carcharodontosaurus. Paralititan adalah dinosaurus sauropod, yaitu dinosaurus berleher panjang dan berjalan dengan empat kaki, dari fosil yang ditemukan peneliti mengklasifikasikannya ke dalam binatang herbivora.

Sementara Carcharodontosaurus berada di keluarga yang sama dengan Tyranosaurus Rex, yaitu Theropoda. Melihat dari fosil yang ditinggalkan, dinosaurus ini merupakan karnivora yang berkeliaran di Sahara zaman Cretaceous yang merupakan zaman terakhir dinosaurus hidup.

Sungai Purba Tamanrasset

Sungai Purba Tamanrasset diketahui berada di bagian barat Sahara dan mengalir setidaknya 5.000 tahun yang lalu. Berbeda dengan Sungai Nil di Barat Sahara, Tamanrasset diketahui memiliki lebar rata-rata yang jauh lebih besar.

Sungai purba ini pertama kali ditemukan oleh satelit milik Jepang bernama Phased Array L-band Synthentic Aperture Radar disingkat PALSAR. Menggunakan mikrosonar, PALSAR dapat melihat menembus pasir Gurun Sahara.

Tamanrasset diduga memiliki peran penting dalam penyebaran manusia dari Afrika menuju Eropa dan Asia. Sungai ini aktif pada masa African Humid Period, zaman di mana Sahara masih memiliki hutan dan tingkat kelembapan yang tinggi.

Danau Purba Mega Chad

Sama dengan Sungai Purba Tamanrasset, Danau Purba Mega Chad terbentuk selama African Humid Period. Danau Mega Chad memiliki nasib yang sedikit lebih baik dibandingkan Tamanrasset karena sisa-sisa danau purba ini masih ada sampai sekarang, yaitu Danau Chad.

Pada masa jayanya Mega Chad diperkirakan melingkupi area sebesar satu juga kilometer persegi, lebih besar dari danau terbesar saat ini, Danau Caspian. Mega Chad menjadi tempat bermukim para manusia purba yang kemudian berkembang menjadi peradaban Sahara.

Masih banyak yang belum diketahui tentang flora dan fauna yang pernah hidup di danau purba ini, tetapi peneliti menduga Danau Mega Chad memiliki ekosistem yang tidak jauh berbeda dengan Danau Chad modern. (SFN)

Copy

Advertise