Jernih dan Mencerahkan

Pakar: Gaya Debat Capres Saling Serang Disukai Anak Muda

802

KinipahamDebat Capres (calon presiden) di beberapa kesempatan terakhir menyajikan aksi saling serang antara satu kandidat dan kandidat lain. Bahkan, tak jarang, serangan tersebut bersifat personal.

Meski kadang terlihat menjemukan dan keluar konteks, namun debat Capres yang saling serang rupanya disenangi anak-anak muda. Setidaknya, itu yang disampaikan Firman Kurniawan selaku pengamat budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia (UI).

“Kalau kita lihat generasi muda yang ada di kelompok perkotaan, yang biasa berbeda pendapat, yang terbiasa menyelesaikan atau menemukan solusi dengan perdebatan, debat adalah hal yang menarik,” ujar Firman Kurniawan, dikutip dari Antara, Kamis (11/1).

Debat Capres. Foto: Ist.
Debat Capres. Foto: Ist.

Menurut Firman, gaya berdebat yang membuat pihak lawan tersulut menyampaikan gagasan hinga menimbulkan amarah justru lebih digemari generasi muda.

“Gaya berdebat yang lebih memancing pihak lain untuk bisa lebih mengungkapkan gagasannya atau mungkin menimbulkan kegeraman, menimbulkan kemarahan, ini justru hal yang dinamis seperti itu akan digemari,” ungkapnya.

Debat Capres Saling Serang Wajar

Firman mengatakan gaya komunikasi dengan intensi menyerang pada debat merupakan hal yang wajar, selama yang diserang adalah gagasan, bukan personal.

Dia berpandangan bahwa gaya komunikasi yang dinamis dan saling beradu gagasan semacam itu lebih dapat diterima generasi muda yang tinggal di perkotaan atau berpendidikan tinggi.

Kelompok generasi muda tersebut dinilai terbiasa mengutamakan kekuatan pikiran dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga cenderung lebih menyukai gaya debat yang dinamis.

Sementara kelompok generasi muda yang lebih konservatif dinilai tak terlalu menyukai ajang debat semacam itu.

Menurut dia, mereka mungkin lebih menyukai debat yang bersifat lebih santun atau lembut. Namun, dia menilai bahwa debat yang terlalu santun mungkin tidak mampu mengungkapkan kemampuan atau cara berpikir yang sesungguhnya dari seorang kandidat.

“Jadi (debat dengan intensi menyerang) tidak masalah, karena kan yang diserang adalah gagasannya,” kata Firman.

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.