Ngeri! Ustaz Yahya Waloni Siap Pimpin Perang Fisik Lawan PKI

Kinipaham – Ustaz Yahya Waloni mengutuk keras aksi penikaman yang dilakukan pria bernama Alpin Andria terhadap Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung, akhir pekan lalu. Ustaz Yahya menduga, gerakan tersebut dirancang secara sistematis dan berakar pada paham komunisme yang belakangan menjalar di Indonesia.

Dikutip dari saluran Youtube pribadinya, Kamis 17 September 2020, Ustaz Yahya Waloni dari dalam mobil mengaku marah dan kesal saat pertama kali jamaah mengirimi dia video tersebut. Ustaz Yahya tak habis pikir, bagaimana bisa ulama seperti Syekh Ali Jaber mendapat perlakuan semengerikan itu.

Baca juga: Ekonomi Negara Terpuruk, Demokrat Minta Jokowi Tiru SBY

“Saya mendapat kabar yang menyakitkan hati, terkait tindak pidana penusukan pada ulama dan tokoh besar Islam, Syekh Ali Jaber yang dilakukan pengikut komunis. Mengapa saya sebut komunis? Karena yang antiulama dan antiagama adalah PKI, komunis,” ujarnya dengan nada yang cukup tinggi.

“Mendengar peristiwa ini, membuat darah kami mendidih. Di manapun saudara-saudaraku berada, ini merupakan peringatan keras yang Allah tunjukan pada kita, bahwa mereka yang menganiaya ulama adalah mereka yang anti-Pancasila dan anti kebenaran Alquran,” sambungnya.

Ustaz Yahya Waloni. Foto: Istimewa
Ustaz Yahya Waloni. Foto: Istimewa

Ustaz Yahya melihat, pria yang menusuk Syekh Ali Jaber sebenarnya hanya sekadar orang suruhan belaka. Dia dengan tegas meminta, pihak-pihak yang menyuruh pria tersebut sebaiknya menampakkan wajah ke publik. Sebab dengan demikian, dia dan para pemuka agama lain bisa mengenalinya.

Bahkan, jika situasinya sedemikan kacau hingga membuat kedua belah pihak harus berperang, maka dia siap mengomandoi para pendakwah di Indonesia untuk melakoni hal tersebut. Sebab, kata dia, apa yang mereka—dalam kasus ini: PKI—lakukan sudah sangat keterlaluan.

“Bila harus terjadi perang fisik, saya, Ustaz Muhammad Yahya Waloni, bakal berdiri paling depan. Saya marah! Jika Allah berkehendak, saya siap memimpin perang,” kata dia.

Copy

Advertise