Mengenang Benjina, Kisah Kelam Perbudakan Nelayan di Timur Indonesia

Kinipaham – Belum usai wabah Covid-19 yang makin meresahkan, satu berita yang menjadi viral di Korea Selatan membuat warga Indonesia murka. Salah satu media asal Negeri Gingseng, MBC, melalui kanal Youtube resminya menayangkan video yang memerlihatkan jenazah anak buah kapal (ABK) asal Indonesia dibuang ke laut oleh warga negara China.

Diketahui bahwa kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya ada dua jenazah ABK Indonesia juga mendapatkan perlakuan yang sama. Padahal kontrak kerja menyebutkan, jenazah akan dikremasi dan abu akan dikirim pada keluarga. Ahli waris juga akan mendapatkan Rp150 juta sebagai bagian dari asuransi.

Fakta lainnya terungkap, yakni perbudakan. Para ABK harus bekerja selama 18 jam dengan waktu istirahat dan makan hanya 6 jam. Diskriminasi juga terjadi lantaran para atasan yang merupakan warga negara China minum air tawar sedangkan para ABK bawahan minum air laut. Upah yang mereka dapatkan juga sangat jauh dari kata layak yakni Rp135 ribu per bulan.

Kapten kapal diketahui membuat pernyataan dan dirilis laman Kemlu.go.id. “Pada Desember 2019 dan Maret 2020, pada kapal Long Xin 629 dan Long Xin 604, terjadi kematian 3 awak kapal WNI saat kapal sedang berlayar di Samudera Pasifik. Kapten kapal menjelaskan bahwa keputusan melarung jenazah karena kematian disebabkan penyakit menular dan hal ini berdasarkan persetujuan awak kapal lainnya,” tulis pada poin ketiga.

Baca juga: China ‘Sumpal’ Mulut Besar Donald Trump dengan Cara Kreatif

Tentu bukan hanya pembuangan, pelemparan atau pelarungan, seperti yang dikatakan kapten kapal yang menjadi masalah. Tetapi isu perbudakan yang nyatanya terjadi. Kasus ini mendapatkan sentilan cukup keras dari Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan era 2014-2019. Ia mengutuk keras tindakan tersebut dan mengingatkan kembali kasus yang terjadi di Benjina. Sebenarnya apa yang terjadi di Benjina 5 tahun lalu?

Benjina merupakan pulau kecil yang terletak di Aru Tengah, Kepulauan Aru, Maluku. Nama pulau kecil ini mendadak jadi perhatian Indonesia bahkan dunia usai kasus perbudakan terungkap. 550 pemuda asal Myanmar, Kamboja, Laos dan Thailand menjadi korban kerja paksa oleh perusahaan perikanan berbendera Thailand di wilayah Indonesia. Mereka dipekerjakan PT Pusaka Benjina Resorces (PBR).

Para pemuda itu telah menjadi budak, diculik dan dijual dari negara asal mereka hanya untuk diperlakukan tak selayaknya manusia selama bertahun-tahun oleh para nelayan besar. Hingga akhirnya mereka berhasil diselamatkan pada 1 April 2015 lalu. Selain 550 orang tersebut, tidak ada yang tahu pasti berapa banyak orang yang meninggal karena pemukulan, penyiksaan atau kelaparan yang mereka rasakan.

Perbudakan terasa sangat nyata. Mereka dipaksa untuk bekerja selama 20 hingga 22 jam selama sehari di kapal pukat ikan di pulau tersebut. Jika mereka tertidur karena kelelahan, beragam hukuman menanti. Dari mulai disayat dengan ekor ikan pari beracun atau diestrum oleh alat setrum Taser Gun. Mereka juga dipukuli, dikurung dalam kurungan dan ketika tewas, dibuang ke laut untuk ditenggelamkan.

Upah yang mereka terima juga tak layak. Dilansir dari berbagai sumber, terjadi diskriminasi gaji. ABK non-Thailand digaji Rp1 juta per bulan, ABK Indonesia Rp1,5 juta per bulan, dan ABK Thailand Rp3 juta per bulan.

Baca juga: Menolak Lupa, Berikut Sederet Aksi Sadis Kim Jong Un di Korea Utara

Dilansir dari Theage.com.au, salah satu pemuda, Hlaing Min, yang berasal dari Myanmar mengatakan, “Pasti ada gunung tulang di laut. Tulang orang-orang itu bisa jadi sebuah pulau karena saking banyaknya,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Tim Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Illegal Fishing yang datang ke Benjina menemukan 77 kuburan di areal pantai pulau tersebut. Delegasi yang dipimpin Dubes Thailand untuk RI, Poniman dan asisten kepala kepolisian Thailand, Anakevieng Sarichai setiba di lokasi langsung mendata nama-nama yang tertera di deretan nisan kayu.

Kuburan tepat berada di pinggir pantai pulau tersebut. Letaknya tak beraturan. Hanya papan-papan nisan bertuliskan nama para ABK, tempat lahir, agama, kapal dan tanggal kematian menjadi sumber informasi.

Awalnya, ABK non-Thailand bekerja di PBR karena dijanjikan bekerja di Thailand. Ada juga yang dijual agen tenaga kerja di negara asal mereka. Bahkan ada yang memberikan keterangan, calon ABK tersebut dibuat dalam keadaan mabuk dan begitu sadar sudah berada di atas kapal. Semua ABK non-Thailand juga mendapatkan paspor palsu Thailand.

Para ABK non-Thailand tentu ingin kembali ke negara asal. Seperti yang diungkapkan 22 orang ABK pada awalnya. Namun ketika ada pengumuman mereka akan dipindahkan dan dibawa ke Tual, yang berada di Pulai Kai, Maluku, teman-teman 22 orang tadi turun dari gunung, sekitar pantai dan beragam tempat lainnya di Benjina hingga akhirnya terkumpul hampir 400 orang.

Hal ini membuktikan bahwa mereka ketakutan kalau berada di kawasan PT Pusaka Benjina Resorces, dan lebih ironis lagi mereka hanya membawa tas-tas plastik, hanya terdapat 1 (satu) orang yang membawa koper dalam kondisi jelek, serta para ABK tersebut banyak meninggalkan utang di warung-warung sekitar PT PBR.

Setelah diadakan pengusutan terhadap kasus ini, lima kapal besar disita. Mei 2016, Pengadilan Negeri Tual menjatuhkan vonis tiga tahun penjara terhadap delapan terdakwa tindak pidana penjualan orang (TPPO) yang terjadi di Benjina.

“Para terdakwa juga dihukum membayar restitusi atau uang pengganti kepada 13 mantan anak buah kapal asing asal Myanmar yang bekerja di PT.PBR, yang totalnya mencapai 884 juta rupia,” kata Ketua majelis hakim PN Tual, Edy Toto Purba kepada Kantor Berita Antara.

Kelima warga asal Thailand itu adalah Surachai Maneephong, Boonsom Jaika, Youngyut Nitwongchaeron, Hatsaphon Phaethajreng, dan Somohit Korraneesuk. Selain mereka, tiga warga Indonesia yang dijatuhi hukuman penjara adalah: Hermanwir Martino, Mukhlis Ohoitenan dan Yopi Hanorsian. “Mereka semua terbukti bersalah melanggar hukum anti perdagangan manusia,” kata Edy Toto Purba, yang memimpin sidang. “Mereka pantas mendapat hukuman penjara dan denda.”

Baca juga: Ironi di Tengah Pandemi: Penjual Peti Mati Terima Lebih Banyak Pesanan

Tiga belas ABK asal Myanmar memberikan kesaksian dalam sidang tersebut dan mereka dilindungi Badan Perlindungan Korban. Para pekerja kecewa karena vonis yang terlalu ringan.

“Mereka harusnya dihukum lebih berat, karena mereka menyiksa banyak nelayan selama bertahun-tahun. Ini tidak adil bagi kami,” kata Win Ko Naing, 26 tahun, yang diperbudak di Benjina selama hampir enam tahun. Dia mengikuti pengusutan dan penggadilan kasus ini dari Myanmar, tapi tidak bersaksi di persidangan.

“Mereka tidak akan pernah membayar kompensasi kepada kami, karena mereka tahu bagaimana untuk luput dari hukuman,” tambahnya. “Aku tidak akan pernah melupakan apa yang mereka lakukan untuk banyak orang selama bertahun-tahun. Tiga tahun penjara terlalu mudah bagi mereka,” tutup Win Ko Naing. (SFN)

Copy

Advertise