Jatuh Bangun Harley di Pasar Roda Dua: Dulu Digilai, Kini Orang Ogah Beli

Kinipaham – Dalam dunia kendaraan roda dua, nama Harley-Davidson sudah menjadi legenda dan terkenal dengan pengendaranya yang fanatik. Tidak sedikit jajaran artis Indonesia yang memilih motor buatan Amerika Serikat itu sebagai tunggangannya. Meski dikenal sebagai legenda dalam dunia motor, bukan berarti Harley-Davidson dalam keadaan baik, Penjualan Harley-Davidson terus menurun dari waktu ke waktu membuatnya sekarat secara finansial maupun fanbase.

Menurut laporan Harley-Davidson yang dipublikasikan oleh Bloomberg, mereka tidak pernah merasakan kenaikan penjualan signifikan dalam jumlah penjualan motor, terakhir kali Harley-Davidson mengalami peningkatan signifikan pada kuartal ketiga tahun 2014. Penjualan Harley-Davidson yang jalan di tempat itu menghasilkan hutang sebesar $4,5 miliar.

Lantas, mengapa perusahaan selegendaris Harley-Davidson mengalami penurunan penjualan? Banyak yang menyalahkan generasi muda yang sudah tidak tertarik lagi dengan motor gede atau moge, dan beralih ke brand lain. Padahal pembunuh brand legendaris ini adalah Harley-Davidson itu sendiri.

Ketika kita membicarakan Harley-Davidson yang terlintas di pikiran kita adalah brand moge gagah yang dimiliki oleh kaum Rebel atau Counter Culture. Harley-Davidson menyodorkan dirinya kepada dunia sebagai motor milik Freeman. Dengan brand image seperti ini mereka mengesampingkan calon pasar besar, yaitu orang-orang normal yang tidak berafiliasi dengan kaum Rebel.

Kesalahan Harley-Davidson dieksploitasi oleh brand-brand Jepang yang melakukan kampanye brand ramah lingkungan dan milik semua orang. Pada tahun 1962 Honda meluncurkan kampanye “You meet the nicest people on Honda” lalu perlahan mulai dilirik oleh publik sebagai motor yang berbanding terbalik dengan Harley-Davidson.

Baca juga: Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Motor Honda Disukai Orang Amerika

Melihat makin kalah bersaing dengan pabrikan Jepang, Harley-Davidson di tahun 1983 akhirnya lari ke Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan untuk menyelamatkan brand ‘made in USA’ ini. Reagan meresponnya dengan menerapkan tarif pajak impor 45% pada motor berkapasitas mesin lebih dari 700cc. Penerapan pajak ini menjadikan Harley-Davidson sebagai pemain dominan di kelas motor dengan kapasitas mesin di atas 1000cc.

Kebijakan ini berdampak sangat baik terhadap penjualan Harley-Davidson hingga pada 2006 mencapai puncak penjualan tertinggi sepanjang sejarah Harley-Davidson. Tetapi masalah lain muncul, penggemar Harley-Davidson tidak lagi muda dan tidak ada regenerasi.

Permasalahan tidak adanya regenerasi langsung direspon oleh Harley-Davidson dengan mengeluarkan motor XR1200 pada 2008, mengambil desain retro modern motor ini diyakini bisa menggaet anak muda untuk membelinya. Harley-Davidson juga menggoda para anak muda dengan harganya yang terjangkau. Tetapi ternyata XR1200 gagal terjual sesuai ekspektasi.

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, Harley-Davidson kembali dihantui penurunan penjualan ketika Trump naik sebagai Presiden Amerika Serikat. Trump pada 2018 menaikan tarif impor besi dan aluminum, European Union meresponnya dengan ‘mencekik’ produk Amerika Serikat, termasuk motor legendaris Harley-Davidson.

Tarif tambahan yang dikenakan EU kepada Harley-Davidson mencapai $2200 per unit, dengan harganya yang semakin mahal Harley-Davidson semakin tidak dapat bersaing dengan kompetitor seperti Ducati, Royal Enfield, MV Agusta, dan lainnya. Padahal pasar Eropa merupakan pasar terbaik Harley-Davidson setelah Amerika Serikat.

Berusaha Bangkit

Harley-Davidson menyadari kesalahannya yang berusaha menunjukan brand image sebagai motor gede (banget) milik freeman dan mulai menggeser fokus produksinya ke arah pengendara muda yang sadar akan lingkungan.

Tercatat ada empat motor purwarupa modern dalam situs resmi Harley-Davidson. Motor ini termasuk motor listrik bernama Harley-Davidson Livewire, motor adventure Pan America, motor streetfighter Harley-Davidson Bronx, dan motor custom terbaru yang belum diberikan nama. Keempat motor ini direncanakan akan meluncur dari 2020 sampai dengan 2021.

Meskipun sudah berusaha bangkit dari keterpurukan penjualan motor, banyak pengamat kendaraan bermotor meragukan langkah yang diambil Harley-Davidson bisa menyelamatkan perusahaan itu. Fortnine, pengamat motor asal Kanada, mengatakan langkah yang diambil Harley-Davidson sudah terlambat untuk menyelamatkan brand besar ini.

Fortnine kemudian dalam channel youtubenya mengatakan Harley-Davidson bisa saja hilang sebagai brand kendaraan roda dua, tetapi Fortnine yakin brand Harley-Davidson akan tetap ada walaupun namanya tidak akan sebesar dahulu. (SFN)

Copy

Advertise