Ironi di Tengah Pandemi: Penjual Peti Mati Terima Lebih Banyak Pesanan

Kinipaham – Virus corona atau Covid-19 kini makin menjadi momok yang menakutkan bagi warga dunia. Berdasarkan data dari worldmeters.info sampai Jumat, 24 April 2020, kasus positif corona di seluruh dunia sudah menembus angka 2,72 juta jiwa. Angka kematiannya sendiri sudah lebih dari 191 ribu jiwa dengan total 750 ribu orang dinyatakan sembuh.

Deretan angka tersebut masih menjadi perdebatan terutama mengingat banyak penderita corona yang tidak memiliki gejala. Perdebatan mengenai angka kasus tersebut juga terjadi di Indonesia. Hingga berita ini dimuat, juru bicara pemerintah untuk menangani Covid-19, Achmad Yurianto mengumumkan bahwa 8.211 orang positif Covid-19 dengan mayoritas penderita di Jakarta, sebanyak 3.605.

Baca juga: Strategi Baru Italia Lawan Corona, Pakai Aplikasi Pelacak Mutakhir

Ketika perdebatan berkecamuk mengenai jumlah korban yang sebenarnya, pembuat peti mati di Jakarta, terlalu sibuk untuk memperhatikan masalah ini. selain tenaga medis sebagai garda terdepan melawan covid-19, pembuat peti mati juga disibukkan lantaran angka kematian yang terus bertambah tiap harinya.

Sahroni, dari bengkelnya di pemakaman Pondok Kelapa, Jakarta Timur, menghabiskan waktu selama 16 jam sehari untuk bekerja. Dilansir dari Reuters, ia mengungkapkan bahwa terdapat kenaikan permintaan peti mati dalam sehari. “Biasanya kami menjual antara lima hingga tujuh peti mati sehari, tetapi sekarang tinggal hingga 20 hingga 30 peti mati sehari,” ujar Sahroni (38) ketika ia mengoleskan mantel dasar ke peti mati kayu.

Rak-rak yang ada di bengkelnya dipadati dengan peti mati yang baru dicat. Sementara di depan bengkelnya, deretan salib putih sedang dikeringkan di bawah sinar matahari tropis. “Jam kerja kami sekarang dari pagi hingga tengah malam,” kata Sahroni.

Baca juga: Jeruk Hingga Bayam, Ini Deretan Makanan yang Diklaim Bisa Tangkal Corona

Gudang tempat Sahroni bekerja biasanya untuk membuat peti mati yang biasanya dipesan keluarga minoritas Kristen di Indonesia. Tetapi kini mereka juga menyediakan peti mati untuk semua denominasi, termasuk Muslim yang biasanya dimakamkan dengan menggunakan kain kafan. Hal ini dilakukan lantaran protokol untuk orang yang meninggal karena Covid-19.

Hingga hari ini, Indonesia telah mengidentifikasi 689 kematian. Tetapi para ahli kesehatan masyarakat dan ahli epidemiologi menunjuk pada frekuensi pengujian yang relatif rendah dan tingkat kematian yang tinggi karena indikasi tingkat infeksi yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Data eksklusif yang diperoleh oleh Reuters mengungkapkan ada hampir 4.400 penguburan di Jakarta pada Maret lalu, atau melonjak 40% dari bulan apa pun dalam dua tahun terakhir, dan tanda kematian akibat virus bisa lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi.

Data dari kantor gubernur Jakarta lebih lanjut menunjukkan lebih dari 438 orang telah dimakamkan menurut protokol COVID-19 antara 2 Maret dan 6 April, meskipun angka kematian nasional hanya sekitar setengah dari angka itu.

Dalam beberapa kasus, korban yang diduga tertular penyakit telah meninggal sebelum hasil tes tersedia, melihat mereka dimakamkan sesuai dengan protokol COVID-19 sebagai tindakan pencegahan. Berapa pun angka sebenarnya, mereka yang bekerja di industri pemakaman di Jakarta, rumah bagi lebih dari 10 juta orang dan pusat penyebaran di negara terpadat keempat di dunia itu, sedang bersiap-siap untuk jumlah korban yang meningkat.

Perusahaan Sahroni bahkan telah membuka kembali gudang pembuatan peti mati tua di Jawa Barat, memulai lini baru peti mati yang lebih murah dan menyumbangkan 1.000 peti mati ke rumah sakit. Mereka yang bertanggung jawab untuk mengangkut korban coronavirus ke tempat pemakaman mereka juga bergulat dengan dampak pandemi yang menghancurkan.

“Kami telah mengubur mayat tanpa henti hingga pukul 22:00 dan kami melanjutkan dengan hal yang sama di pagi hari,” kata Sumiyati, pengemudi ambulans berusia 48 tahun untuk departemen taman kota dan pemakaman yang juga menggunakan satu nama.

Baca juga: India Sulap Gerbong Kereta jadi Ruang Isolasi, Indonesia Siap Tiru?

Selain itu, Sumiyati juga sekarang menjalankan pekerjaannya dengan peralatan pelindung. Tepatnya menggunakan jas hujan plastik, sarung tangan, masker, dan sepatu boot.

Tidak hanya ketika bekerja, namun keluarganya juga sudah menetapkan standar pencegahan yang baru. “Di rumah, anak-anak saya sudah menyiapkan semprotan desinfektan, yang mereka semprotkan pada saya. Jika tidak, mereka tidak akan membiarkan saya masuk,” katanya. “Itulah konsekuensi dari pekerjaan ini. Kami harus menerima risikonya.” (SFN)

Copy

Advertise