Hati-hati, Anak yang Kegemukan Lebih Berisiko Kena Diabetes

Kinipaham – Sebagian orang tua beranggapan, bayi atau anak bertubuh gemuk lebih menggemaskan dibandingkan kurus. Meski pendapat tersebut mungkin benar, namun perlu dipahami, kegemukan pada anak bisa berisiko diabetes.

Setidaknya hal tersebut yang dikemukakan spesialis gizi dari RSIA Melinda Bandung, Dr Johanes Chandrawinata, belum lama ini.

“Balita yang kegemukan atau obesitas, dapat mengalami peningkatan resistensi insulin, sehingga membutuhkan lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula darahnya,” ujar Dr. Johanes, dikutip dari Antara, Sabtu 12 Juni 2021.

Baca juga: Diabetes Bisa Picu Kebutaan, Lakukan Ini untuk Pencegahan

Dia menjelaskan, saat produksi insulin meningkat, maka sel-sel beta pankreas penghasil insulin akan dipacu berlebihan memproduksi insulin, dengan konsekuensi kerusakan sel beta sehingga lama-kelamaan produksi insulin menurun sehingga muncul diabetes tipe 2.

“Tingginya kadar insulin dapat diperiksa di laboratorium dengan hasil dibandingkan terhadap usia dan jenis kelamin yang sesuai,” terangnya.

Namun secara klinis, tingginya kadar insulin dalam tubuh anak obesitas bisa dilihat dari garis hitam pada lipatan leher yang disebut sebagai pseudo acanthosis nigricans. Johanes kemudian menambahkan bahwa pada umumnya gejala diabetes pada orang dewasa sama seperti pada anak-anak.

Gejala Diabetes

Ada beberapa gejala khas diabetes, yakni sering merasa haus, cepat lapar, dan banyak buang air kecil. Pada beberapa kasus, berat badan penderita diabetes mengalami penurunan tanpa sebab meski sudah banyak makan.

Pada anak-anak, hal ini tentu akan mengganggu proses tumbuh kembang. Sebagai pencegahan, Johanes menganjurkan supaya anak usia dua tahun ke atas mengonsumsi makanan sehat yang sama seperti orang dewasa.

“Kurangi asupan gula dan garam yang berlebihan, hindari minuman dengan kadar gula tinggi seperti sari buah kemasan. Buah sebaiknya dimakan dalam bentuk potongan untuk dikunyah,” kata dia.

Garam juga dianjurkan sesedikit mungkin digunakan dalam makanan balita, agar mereka tidak terbiasa menyantap makanan asin. Asupan garam seharusnya dibatasi maksimal 5 gram per hari atau 1 sendok peres pada orang dewasa. Pada balita tentunya semakin sedikit garam semakin baik. (Antara)

Copy

Advertise