Geger Modus Predator ‘Kain Jarik’, Apa Itu Fetish dan Gimana Gejalanya?

Kinipaham – Dunia maya terutama media sosial Twitter kini sedang digemparkan dengan thread dari akun @m_fikris. Lewat thread berjudul ‘Predator “Fetish Kain Jarik” Berkedok Riset Akdemik dari Mahasiswa PTN di SBY’, ia mengaku menjadi korban pelecehan seksual dari pelaku bernama Gilang.

Pelaku diketahui memiliki penyimpangan seksual aneh, yakni berhasrat ketika melihat para korbannya dibungkus mengenakan kain jarik.

Dalam thread tersebut juga diketahui cara pelaku menjerat korbannya. Ia berpura-pura sedang melakukan riset akademik dan menyasar para mahasiswa baru atau siswa SMA menggunakan relasi kuasa terhadap korban. Pelaku memosisikan diri sebagai senior sehingga memiliki kuasa atas para korban. Gilang juga disebut menggunakan alasan vertigo dan ancaman bunuh diri pada sang korban.

Setelah munculnya thread tersebut, korban lain akhirnya berani bersuara. Sebagian lain warganet justru merasa aneh dengan kelainan seksual yang dimiliki oleh Gilang bahkan menyebutnya fetish. Sebenarnya, apa itu fetish?

Apa itu fetish?

Gangguan fetishisme adalah daya tarik seksual yang kuat pada objek, baik pada benda mati atau pada bagian tubuh yang biasanya tak dipandang sebagai objek seksual. Bagian tubuh itu biasanya adalah jari kaki. Orang kebanyakan mungkin akan melihatnya sebagai hal yang biasa, namun berbeda dengan orang yang memiliki gangguan ini atau disebut sebagai fethisist.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition atau DSM-5, kelainan ini memiliki ciri sebagai satu kondisi ketika ada ketergantungan atau penggunaan yang secara terus menerus pada satu objek.

Seperti yang sudah dijelaskan, objek itu biasanya tidak hidup seperti pakaian dalam atau sepatu hak tinggi. Bisa juga pada bagian tubuh tertentu di luar dari bagian tubuh yang biasanya ada dalam fantasi seksual. Semua ini merujuk pada satu tujuan utama yaitu memperoleh kepuasan seksual.

Bukan hal yang langka, fetish justru bisa terjadi pada banyak individu dan berlangsung secara normal. Namun diagnosa gangguan fethis ini hanya diberikan ketika adanya tekanan pada pribadi orang tersebut. Misalnya jika ha tersebut sudah menjadi gangguan pada kehidupan sosial, pekerjaan atau fungsi lainnya sebagai akibat dari fetish tersebut.

Baca juga: Banyak Minum Kopi Bikin Payudara Mengecil, Mitos atau Fakta?

Fetish dikategorikan dalam dua jenis yaitu bentuk fetish dan media fetish. Bentuk fetish sangat mementingkan bentuk dari objek, seperti sepatu hak tinggi. sedangkan media fetish lebih mementingkan bahan dari objek, misalnya terbuat dari kulit atau karet. Fetishist biasanya akan mencium, menggosok atau bahkan mengecap benda-benda yang bisa merangsang mereka secara seksual. Atau lebih parah, membuat orang lain mengenakan objek fetish mereka. Inilah yang terjadi pada Gilang dan para korbannya.

Gangguan ini biasanya lebih umum terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita. Bahkan, gangguan ini secara khusus muncul pada pria. Fetishisme termasuk dalam kategori umum gangguan paraphilic, yang mengacu pada ketertarikan seksual yang intens pada benda atau orang di luar stimulasi genital dengan pasangan.

Gejala yang muncul pada Fetishist atau orang dengan fetish

Dalam banyak kasus, seseorang dengan gangguan fetishistik hanya dapat terangsang secara seksual dan mencapai orgasme ketika fetish digunakan. Mereka juga seringkali merasa sangat malu atau tertekan lantaran ketidakmampuan mereka untuk terangsang menggunakan rangsangan yang biasa. Dalam kasus lain, respon seksual bisa terjadi tanpa objek fetish namun tingkatannya berkurang. Ini yang bisa menyebabkan rasa malu pada hubungan seksual dengan pasangan.

Kriteria diagnostik untuk gangguan fetish ini juga tercantum dalam DSM-5 dan meliputi:

  • Untuk jangka waktu enam bulan, orang tersebut memiliki fantasi, desakan atau perilaku yang berulang serta membangkitkan gairah terhadap benda-benda yang tak hidup atau sangat fokus pada bagian-bagian tubuh nongenital.
  • Fantasi, dorongan seksual dan perilaku yang intens itu menyebabkan tekanan bagi fetishist yang akhirnya menimbulkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan pribadi.
  • Penggunaan benda-benda fetish bukan berupa pakaian yang biasanya digunakan dalam cross-dressing dan tidak dirancang untuk stimulasi genital.

Penyebab fetish

Paraphilias seperti gangguan fetishistik biasanya memiliki konsen selama masa pubertas, tetapi fetish dapat berkembang sebelum masa remaja. Tidak ada penyebab gangguan fetisistik yang ditemukan secara meyakinkan.

Beberapa ahli teori percaya bahwa fetisisme berkembang dari pengalaman anak usia dini, suatu objek dikaitkan dengan bentuk gairah atau kepuasan seksual yang sangat kuat. Ahli lainnya fokus pada masa kanak-kanak dan remaja dan kondisi yang terkait dengan masturbasi dan pubertas.

Dilansir dari psycologytoday, model pembelajaran yang menunjukkan bahwa seorang anak menjadi korban atau pengamat perilaku seksual yang tak pantas akhirnya meniru perilaku tersebut. Model kompensasi menunjukkan bahwa orang-orang ini mungkin kehilangan kontak seksual sosial yang normal, dan karenanya mencari kepuasan melalui cara yang kurang dapat diterima secara sosial.

Dalam kasus yang melibatkan laki-laki, beberapa ahli berpendapat bahwa gangguan fetisisme mungkin berasal dari keraguan tentang kejantanan, potensi, atau ketakutan akan penolakan dan penghinaan seseorang. Mereka akhirnya menggunakan praktik-praktik fetisistik itu untuk melakukan kontrol atas objek mati tersebut. Lebih lanjut, seseorang juga bisa melindungi dirinya atau menghindari perasaan tak mampu ketika berhubungan seksual.

Pengobatan yang dilakukan orang dengan fetish

Fantasi fetisisme ini dalam banyak kasus tak berbahaya. Namun mereka bisa diperlakukan sebagai gangguan ketika menyebabkan kesulitan atau mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari.

Gangguan ini cenderung tak tetap dalam segi intesintas dan frekuensi dorongan atau perilaku selama kehidupan sang penderita. Akibatnya, pengobatan yang efektif biasanya bersifat jangka panjang. Meskipun DSM-5 tidak merinci perawatan tertentu, pendekatan yang berhasil telah biasanya berbagai bentuk terapi serta terapi pengobatan (seperti terapi kekurangan SSRI -antidepresan atau androgen – hormon).

Semakin banyak, bukti menunjukkan bahwa menggabungkan terapi obat dengan terapi perilaku kognitif bisa efektif, meskipun penelitian tentang hasil terapi ini tetap tidak meyakinkan. Kelas obat yang disebut antiandrogen secara drastis dapat menurunkan kadar testosteron sementara, dan telah digunakan bersama dengan bentuk-bentuk lain pengobatan untuk gangguan fetishistic. Obat ini menurunkan dorongan seks pada pria dan dengan demikian dapat mengurangi frekuensi pencitraan mental yang membangkitkan gairah seksual.

Copy

Advertise