Jernih dan Mencerahkan

Deretan Jet Tempur yang Berada dalam Radar Prabowo, Mana Paling Ngeri?

151

Kinipaham – Setelah dilantik sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia periode 2019-2024, Prabowo Subianto langsung bergerak cepat mencari pesawat tempur baru untuk dibeli. Namun, mewabahnya virus corona di dunia, termasuk Tanah Air, membuat dirinya menunda sementara rencana tersebut.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra itu sempat berkunjung ke Perancis untuk melihat-lihat jet tempur Dassault Rafale. Namun, harga yang tak seimbang dengan kualitas, membuat dirinya ragu dan mengalihkan targetnya ke jet tempur buatan negara lain.

Pada awal tahun, Prabowo dikabarkan sempat bertemu Menhan Rusia, Sergey Shoygu di Moskow untuk melakukan negosiasi ulang terkait pembelian 11 unit pesawat Sukhoi SU-35. Sempat meyakinan di awal, nyatanya perjanjian itu terancam batal setelah muncul ancaman sanksi ekonomi dari Amerika Serikat melalui aturan yang tertulis di Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act.

Baca juga: Mengenal Skandal Snowden dan Tiga Jasa Besarnya untuk Dunia IT

Tak hanya memerintahkan Indonesia untuk membatalkan kontrak pembelian Su-35 dari Rusia, pihak AS juga menawarkan Indonesia untuk membeli F-16 buatannya. Namun demikian, Indonesia menolak dan lebih tertarik membeli F-35 karena jet tempur itu dikembangkan dalam program Joint Strike Fighter atau JSF dengan para negara mitra.

Lantas, dari ketiga pesawat yang masuk dalam radar Prabowo, mana yang kira-kira paling layak dibeli? Berikut kami hadirkan kelebihan serta kekurangan ketiganya.

Dassault Rafale

Dilansir dari laman resmi Dassault-Aviation, Sabtu 9 Mei 2020, Rafale memiliki tingkat aerodinamika tinggi, serta kemampuan manuver zero gravity atau G (+9 G atau -3 G) untuk kestabilan terbang. Bahkan, pesawat itu bisa menerjang udara hingga 11 G dalam keadaan darurat, dengan laju kecepatan pendaratan hingga 115 knot.

Secara dimensi Rafale sebenarnya tidak terlalu besar, namun dirasa cukup untuk mengadakan pertempuran di medan berbukit yang sulit. Panjangnya 15 meter dan tingginya 5 meter. Hebatnya, dengan ukuran yang tak terlalu besar, pesawat bisa mencapai kecepatan maksimum hingga 2.130 kilometer per jam.

Rafale juga telah dilengkapi sistem bantuan-pertahanan terintegrasi bernama SPECTRA yang bisa melindungi pesawat dari serangan udara maupun darat menggunakan teknologi siliman virtual berbasis perangkat lunak. Sehingga, pesawat bisa mendekat ke pertahanan lawan tanpa harus takut terpantau radar.

Sebaliknya, Rafale justru ditanamkan sistem Thales RBE2 berjenis passive electronically scanned array (PESA) yang bisa melacak keberadaan lawan melalui pertarungan jarak dekat.

Baca juga: Putra Elon Musk Diberi Nama X Æ A-12, Bagaimana Cara Bacanya?

Selain menggempur musuh di udara, Rafale juga mampu menarget musuh di permukaan darat dengan peralatan mereka bernama alat intai Thales Optronics’s Reco New Generation dan juga Damocles electro-optical.

Sedang di bagian persenjataan, pabrikan menyematkan GIAT 30/719B cannon dengan 125 bulatan, rudal nuklir ASMP-A, peledak yang telah terintegrasi dengan laser, serta perangkat tembak cadangan yang tersembunyi di dalam tubuh pesawat. Kabarnya, harga per unit Rafale mencapai Rp1,5 triliun.

Sukhoi SU-35

SU-35 sebenarnya merupakan jet tempur yang berstatus sebagai produk generasi keempat. Artinya, pesawat itu masih berada di tingkatan yang sama dengan F-14 Tomcat buatan Amerika Serikat yang tergolong cukup tua. Akan tetapi, Rusia mengaku, ada beberapa penyempurnaan teknologi yang membuat SU-35 tampil bagaikan generasi kelima.

SU-35 mempunyai sistem kontrol terpadu baru yang dikembangkan MNPK Avionika Moscow-based Research and Production Association. Kontrol tersebut secara bersamaan melakukan fungsi beberapa sistem, di antaranya kendali jarak jauh, kontrol otomatis, sistem sinyal pembatas, sistem sinyal udara, dan sistem pengereman roda.

SU-35 juga telah dilengkapi sistem kontrol radar baru dengan antena array bertahap (Irbis-E) yang mampu mendeteksi dan melacak hingga 30 target udara, serta mempertahankan kontinuitas pengamatan yang melibatkan delapan obyek sasaran. Menariknya, jet buatan Negeri Beruang Putih itu bisa memantau wilayah udara hingga kejauhan 400 kilometer dari titik pusat.

Di bagian dapur pacu, SU-35 menggunakan mesin 117S yang dikembangkan NPO Saturn Research and Production Association dengan mode dorong mesin hingga 14.500 kgf.

Pada sisi persenjataan, sudah tertanam peluru kendali udara-ke-udara jenis vympel, kanon internal Gryazev-Shipunov GSh-30-1 dengan 150 peluru, bom dan roket terpandu laser, serta perangkat tembak cadangan yang tersembunyi di dalam tubuh pesawat.

Soal harga, SU-35 ditawarkan di kisaran US$85 juta atau setara Rp1,3 triliun per unitnya.

F-35

Dilansir dari laman resmi F-35, jet tempur tersebut merupakan pesawat generasi kelima yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan Sukhoi SU-35.  Salah satu fitur andalan F-35 ialah ‘Stealth’ atau bahasa ilmiahnya Low Observable (LO). Teknologi itu membuat keberadaan pesawat sulit diendus lawan lantaran Radar Cross Section (RCS) yang amat kecil.

Berbeda dengan SU-35 yang hanya andal melalui pertarungan jarak dekat, F-35 justru tangguh di berbagai jenis pertempuran termasuk jarak jauh. Pesawat AS itu dibekali radar AESA AN/APG-81 yang dapat menjejak target dari titik yang tak terjangkau mata.

Dengan itu, F-35 bisa mengunci lawan terlebih dahulu dan menembaknya dari jarak jauh tanpa harus terlibat dogfight yang membutuhkan manuver ekstrim layaknya Su-35.

Pesawat tersebut menggunakan mesin F135-PW-100 dengan ketinggian 50 ribu kaki di atas permukaan laut serta kecepatan maksimum hingga mach 1.6 atau setara 1960 kilometer per jam.

Di sektor persenjataan, F-35 dibekali berbagai perangkat tembak seperti bom misil dari udara-ke-udara AIM-120C, bom misil dari udara-ke-darat AIM-9X, rudal jelajah AGM-158 Joint Air to Surface Stand-off Missile (JASSM), peledak berpemandu, serta hardpoint eksternal yang memuat persediaan bahan bakar serta senjata pendukung lainnya.

Pembekalan canggih tersebut membuat harga jet tempur AS lebih mahal dibandingkan milik Rusia. Hadir melalui dua skema berbeda, yakni F-35A, F-35B, serta F-35C, moda tempur udara itu dijual paling mahal Rp1,66 triliun.

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.