China ‘Sumpal’ Mulut Besar Donald Trump dengan Cara Kreatif

Kinipaham – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat membuat pernyataan kontroversial pada Januari 2020 lalu. Saat itu, belum ada kasus virus corona dilaporkan di Amerika Serikat, dalam wawancaranya pada CNBC, ia terkesan menyepelekan infeksi covid-19.

Trump mengatakan, “Semuanya di bawah kendali. Ada satu orang datang dari China. Semuanya di bawah kendali. Semua akan baik-baik saja.” Beberapa hari setelah pernyataan tersebut, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mengumukan kasus pertama virus corona.

Baca juga: Corona Belum Usai, Singapura Malah Berniat Kembali Jalankan Roda Ekonomi

Kontroversi seakan tak berhenti dibuat oleh Trump, pada 16 Maret 2020, ketika covid-19 sudah menjadi musuh besar negaranya, ia menyebut corona sebagai “Virus China” yang akhirnya menuai kritikan. “Amerika Serikat dengan kekuatan penuh mendukung industri-industri, seperti Airlines dan lainnya, yang terdampak Virus China. Kita akan lebih kuat dari sebelumnya!” tulis Trump pada akun Twitternya.

Tidak hanya itu, perseteruan Trump dengan China juga makin diperkeruh usai ia membuat pernyataan yang membuat suasana makin panas. “Jika memang terjadi kesalahan, maka itu kesalahan. Tetapi jika mereka bertanggung jawab, tentu ada konsekuensinya,” ucapnya.

Dilansir Bloomberg, Sabtu (18/4/2020), sejumlah politisi Partai Republik menuding Beijing karena Covid-19, yang mulai mewabah pada akhir Desember 2019. Mereka mengklaim, virus corona itu bocor dari laboratorium dalam sebuah eksperimen, dan merancang undang-undang untuk menuntut ganti rugi. Tak hanya itu. Kaum Republikan juga menuding oposisi, Partai Demokrat, yang membela Beijing dengan menyatakan mereka sebagai “aset China”.

Seolah sakit hati dengan ucapan Donald Trump yang seakan menuding negaranya sebagai penyebab pandemi, China merilis kartun mengejek Amerika terkait sikapnya terhadap corona. Animasi berdurasi 90 detik ini berjudul “Once Upon a Virus”  dan menggunakan figur mirip Lego untuk mewakili kedua negara.

Baca juga: Meski Negara Maju, Jepang Kebingungan Tetapkan Status Darurat Covid-19

Diposting secara online oleh Xinhua, kantor berita pemerintah China, video itu memperlihatkan tirai merah terbuka untuk mengungkapkan panggung yang menampilkan seorang prajurit terakota mengenakan masker dan Patung Liberty.

Prajurit memperingatkan simbol New York tersebut untuk penyebaran penyakit baru yang mengkhawatirkan, dengan mengatakan: “Kami menemukan virus baru.” Namun patung tersebut menanggapinya dengan, “Jadi apa? Itu hanya flu,” yang juga pernyataan Trump ketika ia diberitahukan mengenai corona oleh penasihatnya.

Prajutit terakota tersebut menganjurkan patung Liberty untuk tinggal di dalam rumah namun sang patung menjawab, “Itu melanggar hak asasi manusia.”

“Apakah kamu mendengarkan dirimu sendiri?” tanya prajurit itu ketika patung itu mulai memerah karena demam dan dihubungkan ke infus.

“Kami selalu benar, meskipun kami bertentangan dengan diri kami sendiri,” jawab patung itu.

“Itulah yang saya sukai tentang Anda orang Amerika, konsistensi Anda,” kata prajurit itu.

Washington dan Beijing secara tidak langsung memang telah masuk dalam perang kata-kata terkait asal-usul Covid-19 yang bermula di Wuhan pada akhir tahun 2019 lalu. Sejak itu, virus mematikan telah melanda seluruh dunia dan AS sekarang memiliki lebih banyak kasus daripada negara lain sejauh ini, dengan lebih dari 1,1 juta. Lebih dari 67.000 orang Amerika kini telah kehilangan nyawa mereka karena bug pembunuh, jumlah kematian lebih besar dari yang diderita selama Perang Vietnam.

Sedangkan China menderita 4.633 kematian akibat virus itu, dan secara resmi mencatat 82.877 kasus.

Baca juga: Virus Corona Justru Bikin Spotify Untung, Lho Kok Bisa?

Dipercaya secara luas bahwa coronavirus pertama kali melompat dari hewan ke manusia di pasar hewan hidup di Wuhan, pusat transportasi di provinsi Hubei. Namun, teori-teori alternatif telah mulai muncul dan Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa ia yakin Covid-19 mungkin sebenarnya berasal dari laboratorium virologi Tiongkok.

Namun, Presiden AS menolak untuk menjelaskan bukti di balik klaimnya. China dituduh menyesatkan dunia tentang parahnya wabah itu, dan ada seruan yang semakin besar untuk penyelidikan internasional tentang asal-usul virus tersebut. (SFN)

Copy

Advertise