Benarkah Kasus Obesitas Dipengaruhi Kebiasaan Manusia Purba?

Kinipaham – Sebagian dari kita mungkin menyadari, belakangan banyak orang yang mengalami obesitas, baik itu ringan maupun parah. Namun, tahukah kalian bahwa permasalahan ini bisa saja dipengaruhi cara hidup nenek moyang dan jalur evolusi manusia?

Obesitas biasanya identik dengan negara maju, tetapi memasuki era dekade kedua tahun milenium, yakni 2010 ke atas, banyak juga penduduk negara berkembang yang mengalami permasalahan serupa.

Baca juga: Perlukah Orang Sehat Pakai Masker untuk Cegah Corona?

Obesitas sendiri adalah keadaan di mana seseorang memiliki berat badan yang melebihi bobot ideal. Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar dari tahun 2007 hingga 2018, obesitas di kalangan 15 tahun ke atas mencapai 31 persen, padahal pada tahun 2007 masih berada di kisaran 18,8 persen.

Kendati obesitas merupakan masalah pribadi, namun Yuval Noah Harari menyatakan dalam bukunya, ‘A Brief History of Humankind’ tidak sepenuhnya benar jika obesitas hanya dipengaruhi kebiasaan makan seseorang. Harari coba melihat lebih jauh ke proses bagaimana manusia berevolusi dan mengapa kebiasaan makan manusia cenderung “rakus”.

Gaya hidup manusia tidak selalu senyaman sekarang, pada sejarah evolusinya manusia datang dari kelompok primata yang hidup berpindah-pindah serta sangat bergantung dengan alam. Harari menyebut manusia menjadi rakus lantaran pada zaman sebelum revolusi pertanian, manusia akan memakan apa saja yang ditemukan di alam. Tidak hanya berhenti di situ, manusia juga harus berebutan dengan binatang lain.

Seorang manusia purba yang sedang berburu di alam bebas akan memakan sebanyak-banyaknya buah pisang yang ditemukan, karena bila tidak maka monyet akan datang dan mengambil pisang tersebut.

Sekarang manusia hidup di era di mana makanan merupakan hal yang sangat mudah didapat, permasalahannya adalah perilaku memakan sebanyak-banyaknya yang telah berulang dari generasi ke generasi sulit diubah.

Konsekuensinya, obesitas menjadi semakin bertambah sejalan dengan ketersediaan pangan yang semakin baik, keadaan ini diperburuk dengan kebanyakan manusia yang hidup di zaman sekarang tidak harus bekerja keras seperti manusia yang hidup di zaman dahulu.

Tentu kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kebiasaan manusia purba yang masih terbawa hingga sekarang, Harari hanya menyampaikan bahwa kebiasaan ini sudah ada sejak zaman purba. Risiko atas berapa banyak makanan yang dimakan juga menjadi andil dari meningkatnya kasus kegemukan badan tersebut. (SFN)

Copy

Advertise