Belajar dari Selandia Baru: Meski Nol Kasus Corona, Bukan Berarti Aman

Kinipaham – Selandia Baru pada 16 Juni 2020 lalu kembali memiliki kasus aktif Covid-19 setelah sepasang wanita dari Inggris datang berkunjung untuk menengok orang tuanya yang sedang sekarat. Padahal, sejak 23 Mei 2020, negara berjuluk Tanah Kiwi itu sudah tak memiliki pertambahan kasus corona.

Peristiwa itu bermula dari sepasang wanita yang datang dari Inggris melalui Kota Auckland lalu diperbolehkan mengunjugi orang tuanya di Kota Wellington tanpa menjalani karantina.

Baca juga: Dokter Reisa Jadi Jubir Covid-19, Pengamat: Orang Bosan Lihat Pak Yuri Terus

Mereka tidak dikarantina karena keperluan mendesak, yakni mengunjungi orang tua yang sedang sekarat. Akibat kejadian ini, pemerintah Selandia Baru tidak akan memberikan pengecualian kepada siapapun karena takut terjadi penyebaran cluster Covid-19 baru.

“Pengecualian ini baru akan diaktifkan kembali setelah pemerintah yakin dengan sistem yang ada,” sebut Menteri Kesehatan Selandia Baru, David Clark.

Pemerintah Selandia Baru mengambil langkah tegas untuk mengkarantina semua kru pesawat dan penumpang yang berada di penerbangan yang sama dengan kedua wanita tersebut. Tidak berhenti pada kru dan penumpang pesawat, pemerintah juga akan mengkarantina staff hotel yang sebelumnya dikunjungi oleh kedua wanita asal Inggris ini.

Perkembangan terbaru dari kasus Covid-19 di Selandia Baru hingga 18 Juni 2020 terdapat satu kasus baru, menjadikannya kasus ketiga semenjak negara ini menyatakan diri bebas Covid-19.

Nol Kasus Bukan Berarti Aman

Kejadian di Selandia Baru ini menegaskan kepada kita bahwa Covid-19 merupakan penyakit yang sulit diberantas terlebih bila pemerintah tidak hati-hati ketika melakukan pengangkatan  karantina atau PSBB.

Kemunculan kasus baru setelah suatu wilayah menyatakan tidak memiliki kasus Covid-19 bukan hanya terjadi di Selandia Baru, masih segar diingatan kita bahwa kejadian serupa terjadi di Kota Wuhan. Kota Wuhan sebelumnya sudah menyatakan tidak ada kasus aktif Covid-19 tetapi kembali memiliki kasus aktif tidak lama selang membuka kotanya untuk bisnis.

Indonesia Jangan Gegabah Membuka Diri ke Dunia Internasional

Pemerintah Indonesia perlu belajar dari dua kejadian di Kota Wuhan dan Selandia Baru bahwa pengangkatan karantina dan pembukaan perbatasan untuk negara lain bisa menjadi bumerang bagi keselamatan dan kesehatan warga Indonesia.

Staff Khusus Menteri Koordinator bidang Perekonomian Reza Yamora Siregar pada 10 Juni 2020 lalu memprediksi kemunculan gelombang kedua penyebaran Covid-19 akan terjadi setelah pengangakatan PSBB.

Pernyataan Reza mengenai akan terjadinya gelombang kedua langsung terbukti. Semenjak tanggal 10 Juni 2020 Indonesia mengalami pertambahan kasus rata-rata 1.210 perhari, bahkan kemarin pada tanggal 18 Juni 2020 Indonesia memecahkan rekor angka pertambahan kasus dengan ditemukannya 1.331 kasus baru.

Indonesia yang masih belum bisa menangani gelombang pertama Covid-19 perlu melakukan pertimbangan matang sebelum mengambil keputusan untuk melanjutkan pelonggaran PSBB. Bila tidak dipertimbangkan dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia bakal diserang gelombang kedua, meski kenyataannya gelombang pertama belum usai. (SFN)

Copy

Advertise